Analisis Novel Frankenstein

 Memahami Frankenstein

Diterjemahkan dari Sparknotes

 


Konteks Sejarah

Frankenstein dan Revolusi Ilmiah

Dalam Frankenstein, ambisi dalam penemuan ilmiah yang ceroboh membawa kekacauan, tragedi, dan keputuasaan pada semua tokoh dalam novel. Karena banyaknya tokoh yang menderita akibat dari kemajuan ilmiah ini, banyak kritikus yang membaca novel ini sebagai tanggapan kritis terhadap Revolusi Ilmiah. Di mulai sejak pertengahan abad ke enam belas dengan argument Copernicus yang menyatakan matahari adalah titik pusat alam semesta, Revolusi Ilmiah membuka jalan di mana asumsi tentang yang alamiah dipertanyakan dan diperbaiki. Penemuan ilmiah penting lainnya, seperti kontribusi Galileo dalam bidang astronomi dan fisika dan penemuan Isaac Newton tentang gravitasi dan hukum gerak, menunjukkan bahwa pada abad enam belas dan tujuh belas telah terjadi perubahan besar-besaran dalam pengetahuan tentang alam dan cara kerjanya. Temuan-temuan ilmiah ini juga mengubah cara pandang orang-orang tentang pengetahuan: daripada mengandalkan doktrin dari institusi resmi, mereka lebih menyukai pengujian, pengamatan, dan bukti-bukti yang mendukung kebenaran.

Kemajuan dalam pemahaman kita tentang hukum sains memberikan banyak perubahan positif. Namun, beberapa kritikus melihat kemajuan ilmu pengetahuan ini sebagai kebebasan tak terbatas, yang menimbulkan kekhawatiran perihal sejauh mana kita harus maju. Teologi Kristen menjelasakan penciptaan sebagai tugas Tuhan; oleh karena itu, penciptaan monster yang dilakukan Victor Frankenstein berarti telah memposisikan diri pada tingkat yang sama dengan Tuhan.

Gagasan perihal mutilasi dan menyayat mayat demi tujuan eksperimen menjadi ketakutan yang semakin nyata sejalan dengan kebutuhan studi medis akan pengetahuan anatomi dan perosedur eksperimental yang lebih baik. Novel Shelley ini sebenarnya tidaklah menentang penemuan atau kemajuan ilmiah, melainkan berfokus pada konsekuensi yang mucul bila sains tidak dibarengi dengan tanggung jawab moral. Victor Frankenstein terlalu terpaku pada keberhasilannya, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jika memiliki spesies baru yang bergantung padanya.

Sejak penerbitan Frankenstein, banyak penulis lain yang turut mempertanyakan tentang apa yang mungkin terjadi ketika orang mengabaikan konsekuensi dari penemuan ilmiah. Pada tahun 1896, H.G Wells menerbitkan The Island of Dr. Moreau, di mana seorang ilmuwan seperti Victor Frankenstein menciptakan hybrid manusia-hewan. Novel ini merupakan tanggapan langsung akan perdebatan saat itu perihal pembedahan mahluk hidup (prosedur eksperimental yang dilakukan pada hewan).  Perkembangan paling baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi juga memicu adanya perenungan akan kewaspadaan dalam menguji sebuah inovasi. Novel Margaret Atwood Oryx and Crake pada tahun 2003 mengekplorasi tema yang serupa tentang bioteknologi dan penciptaan jenis humanoid baru, menanggapi kemajuan ilmiah seputar rekayasa genetika dan reproduksi buatan, serta juga tentang perusakan lingkungan. Ketika teknologi, kecerdasan buatan, dan ranah digital hadir sebagai topik utama dalam perdebatan sains dan etika, serial televisi Black Mirror juga telah menyajikan isu seputar konsekuensi akan kecerobohan dan kurangnya persiapan matang akan adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

Konteks Kesastraan

Mary Shelley dan Romantisisme

Frankenstein memuat banyak nilai yang terkait dengan Romantisisme, sebuah gerakan kesenian yang dimulai di Eropa Barat selama akhir 1700an hingga pertengahan 1800an. Ciri-ciri romantisisme yakni fokus pada emosi individu, antusiasme tentang keagungan alam, dan perayaan akan kreativitas para seniman. Kehidupan Mary Shelley bersinggungan dengan beberapa penulis dan pemikir terkenal dari periode Romantik. Dia adalah anak dari Mary Wollstonecraft, seorang penulis dan pemikir yang menyuarakan tentang kesetaraan gender, permasalahan akan keadilan , hak-hak, dan ketimpangan sosial. Ketika dia masih berumur enam belas tahun, Mary Shelly jatuh cinta dengan penyair Percy Bysshe Shelley, yang sangat bersemangat dalam menulis sastra yang inovatif yang mencerminkan cita-citanya yang agak radikal perihal kreativitas, kebebasan, dan kesetaraan. Sebagai bagian dari relasi keluarga dan hubungannya dengan Percy Shelley, Mary membangun persahabatan dengan penulis Romantik terkenal lainnya, Lord Bryon.

Konteks Romantisisme mempengaruhi bentuk dan isi novel Frankenstein. Pada tahun 1816, Mary dan Percy Shelley melakukan perjalanan ke Eropa dan mengujungi sahabatnya Bryon di Swiss. Menurut pengantar novel dari Marry Shelley untuk edisi 1831, ketiga penulis ini berlomba dalam menciptakan cerita hantu yang paling menakutkan. Mary menulis bahwa pada malam itu ia bermimpi tentang seorang ilmuwan yang menciptakan monster dan mulai menulis cerita yang akhirnya dikembangkan menjadi Frankenstein. Banyak ciri khas Romantisisme terlihat jelas dalam novel ini. Walton dan Frankenstein adalah sosok yang jenius nan ambisius yang bertekad untuk hidup sesuai dengan takdir mereka; bukan sebagai seniman, keduanya justru terlibat dalam terobosan kerja kreatif dengan mendorong batas-batas geografi dan sains. Pengaruh keindahan alam, yang selalu penting bagi penulis Romantik, memainkan peran penting dalam menciptakan latar yang sesuai untuk peristiwa dramatis dalam novel. Pengalaman Monster yang datang ke dunia tanpa pengetahuan akan norma sosial dan perilaku mencerminkan rasa penasaran era romantisisme tentang sifat bawaan manusia yang perlahan dibentuk oleh masyarakat dan budaya.

IDE UTAMA

Apakah monster Frankenstein itu baik?

Banyak orang yang belum membaca Frankenstein tahu bahwa ciptaan Victor Frankenstein adalah salah satu monster paling terkenal dalam sejarah sastra. Adaptasi novel ke dalam film pun berkontribusi dalam pemahaman keliru dengan menggambarkan monster sebagai karakter mengerikan yang selalu membuat ketakutan. Bagaimanapun, bagian yang membuat novel Mary Shelley sangat menarik adalah kemampuannya dalam menggambarkan monster sebagai karakter yang mutli-dimensi dan kompleks. Monster tersebut bertanggung jawab atas banyak tindakan kejahatan di sepanjang novel. Tampilannya juga sangat menakutkan karena ukuran dan bagian-bagian tubuhnya diambil dari mayat. Namun di saat yang sama, monster itu juga mengalami penolakan dan kesepian. Dia berjuang untuk mendapatkan rasa kekeluargaan, dan ditolak oleh setiap orang yang ia temui. Penolakan dan keterasingan yang dia alami itu dapat menjelaskan alasan perilaku kasarnya, meskipun tidak dibenarkan, sehingga dia dapat dilihat sebagai sosok yang simpatik dalam novel.

Karena pembaca pertama kali diperkenalkan dengan monster dari sudut pandang Frankenstein, monster itu digambarkan aneh dan menjijikkan, dengan “mata berair … kulitnya keriput, dan bibir hitam lurus.” Pembaca akan paham mengapa Victor Frankenstein bergidik ketakutan saat melihatnya. Ketika si monster bertemu Felix, Safie, dan Agatha, ketiga karakter itu langsung ketakutan, meskipun si monster hanya sedang berbincang santai dengan Mr. De Lacey. Memang tidak salah bila karakter ini ketakutan: ukuran si monster dan kekuatan supernaturalnya membuat dia dengan mudah menyakiti orang lain. Sebagaimana dia jelaskan ketika menggambarkan reaksinya terhadap Felix yang memukulnya, “Aku bisa merobek-robek anggota badannya.” Sepanjang novel, pembunuhan pertamanya adalah si kecil William, lalu Henry Clerval, dan akhirnya Elizabeth. Pembunuhan itu dianggap sangat keji karena ketiga karakter itu diposisikan sebagai sosok yang baik dan manis, William dan Elizabeth juga dianggap tidak berdaya untuk bisa melawan.

Namun, ketika si monster menceritakan kisah dari sudut pandangnya, pembaca dapat melihatnya dari perspektif yang baru. Sejak hari pertamanya di hutan dia telah sendirian, tanpa ada orang yang membantu maupun menawarkannya makan dan tempat tinggal. Selama hari-hari awal si monster di hutan, dia menunjukkan sentivitas dan kekagumannya pada keindahan dan alam saat dia menikmati nyanyian indah para burung, dan dia hidup dengan penuh kasih dan sederhana hanya dengan mengonsumsi kacang-kacangan dan buah berri daripada berburu daging.

Selain itu, dia juga sangat tertarik dengan kehidupan harmonis rumah tangga De Lacey. Dia mencoba untuk mengikuti perilaku mereka dengan menunjukkan kebaikan dan perhatiannya; contohnya, ketika dia menyadari bahwa keluarga itu sedang kesusahan dalam makanan, “saya pantang mengambil makanan mereka dan memuaskan diri saya dengan hanya makan buah berri, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Tidak hanya dapat berbuat baik, si monster juga penasaran akan ilmu, mempelajari bahasa, seorang yang bersemangat dan pembaca yang apresiatif.

Terlepas dari tanda-tanda bahwa monster ini memiliki sikap yang manusiawi dan kemungkinan menjadi baik, dia ditolak oleh setiap orang yang ia jumpai. Kapanpun, si monster bertemu manusia, mereka akan langsung kabur ketakutan. Dia bahkan tak bisa meyakinkan si Frankenstein, penciptanya, untuk mendengarnya. Frankenstein juga menghianati monster itu dengan melanggar janji untuk menciptakan pasangannya. Si monster menyadari tidak akan ada orang yang mau melihat kebaikan dalam dirinya. Akibatnya, dia menggunakan kekerasan untuk membuat Victor Frankenstein merasakan apa yang ia derita. Dengan membunuh orang-orang tercinta Victor Frankenstein, si monster mencoba untuk memperlihatkannya bagaimana rasanya hidup sendiri di dunia ini. Meski kejahatan itu tidak termaafkan, fakta bahwa potensi kebaikan dalam diri si monster tersia-siakan membuat sosoknya justru terlihat kasihan. Akhir dari novel menunjukkan bahwa kurangnya rasa persahabatan dan simpati dari manusia mungkin telah mengubah mahluk yang paling manusiawi ini menjadi sesuatu yang mengerikan.

 

Esai Singkat

Narasi Frankenstein berganti dari Robert Walton ke Victor Frankenstein ke Monster dan akhirnya kembali ke Walton. Dari setiap pergantian perspektif, pembaca memperoleh informasi baru tentang fakta cerita dan kepribadian masing-masing narator. Setiap narator memberikan informasi yang hanya diketahuinya sendiri: Walton menceritakan kondisi di hari-hari terakhir Victor; Victor menjelaskan tentang monster ciptaannya; Monster itu menjelaskan alasannya menjadi jahat. Perbedaan perspektif antara narator terkadang sangat terlihat jelas, terutama karena Victor dan Monster itu berada di posisi saling berselisih seapanjang novel.

Dari sudut pandang Victor, monster itu tidak lain adalah mahluk yang mengerikan dan jahat; dari sisi monster, justri ia menganggap dirinya mahluk yang berpikir, perasa, dan emosional. Penceritaan kembali pembunuhan terhadap William Frankenstein adalah contoh utama dari dampak sebuah perspektif: sementara penjelasan Victor, diwarnai  dengan surat emosional dari ayahnya, berfokus pada tindakan kejahatan mutlak, penjelasan si monster berkisar pada keadaan emosionalnya. Meskipun tidak ada orang yang bisa membenarkan tindakan si monster, setidaknya mungkin ada yang bisa memahami mengapa ia melakukan hal tersebut. Narasi ganda semacam ini adalah salah satu hal yang menarik dari struktur narasi yang dipakai oleh Shelley.

Keseluruhan cerita Frankenstein termuat dalam surat-surat Robert Walton kepada saudara perempuannya, yang menarasikan kisah Frankenstein dan monsternya (bahkan kata pengantar Shelley untuk novel itu dapat dibaca sebagai surat pengantar). Surat-surat itu menyampaikan informasi penting yang akhirnya menjadi plot cerita dan menawarkan semacam keaslian cerita dari tokoh yang mengalaminya. Sebagai tambahan, dimasukkannya surat pribadi Victor sebagai penceritaannya memungkinkan Alphone dan Elizabeth mengekpresikan sikapnya masing-masing dengan lebih adil.

Penggunaan surat dalam novel memungkinkan adanya perpindahan narasi dari satu tokoh ke tokoh lainnya sambil tetap berada dalam batas-batas struktur novel. Surat juga berfungsi sebagai sarana interaksi sosial, mengingat para tokoh seringkali tidak bertemu langsung. Walton tidak pernah bertemu dengan saudarinya; hubungan mereka terjalin hanya dari surat-menyurat. Demikian juga, Victor sering mengasingkan diri dari orang yang dicintainya; surat-surat dari Alphonse dan Elizabeth adalah upaya untuk tetap berhubungan dengannya. Bahkan si monster menggunakan surat untuk menjalin hubungan dengan Victor, di akhir novel, dia mengarahkannya ke utara melalui catatan di pohon dan batu yang ia lewati.

Para perempuan dalam Frankeinstein digambarkan sebagai yang suci, polos, dan pasif. Meskipun ada beberapa pengecualian, seperti Caroline Beaufort, yang bekerja untuk menghidupi ayahnya yang miskin, perempuan umumnya dipandang baik namun tidak berdaya. Misalnya, Elizabeth membela ketidakbersalahan Justine namun tetap tidak dapat mencegah eksekusinya. Bagi Victor dan si monster, wanita adalah pendamping utama, memberikan kenyamanan dan penerimaan. Bagi Victor, Elizabeth adalah satu-satunya sosok yang dapat meringankan penderitaanya; sama halnya, si monster juga mencari perempuan dari jenisnya untuk saling berbagi perasaan mereka. Mereka pada akhirnya menghancurkan hasrat satu sama lain, mengubah status perempuan sebagai objek balas dendam mereka; sehingga perempuan tidak pernah diberi kesempatan untuk bertindak sendiri.

Dalam konteks adanya karakter perempuan pasif, menarik untuk dicatat bahwa ibu Mary Shellet, Mary Wollstonecraft adalah penulis A Vindication of the Rights of Woman yang sangat feminis. Pembaca dapat berargumen bahwa Frankenstein adalah penolakan terhadap upaya laki-laki (dengan cara tidak wajar) untuk merebut apa yang sebenarnya adalah miliki perempuan – yaitu melahirkan. Pembaca juga dapat menafsirkan novel sebagai penolakan akan perkembangan sains yang agresif, rasional, dan didominasi oleh laki-laki pada akhir abad ketujuh belas dan awal abad kedelapan belas. Meskipun lama untuk dapat diterima, sains semakin menjadi prioritas dalam kehidupan masyarakat Eropa. Dalam hal ini, Frankenstein dapat dilihat sebagai domestifikasi  perempuan tradisional dengan penekanannya pada keluarga dan hubungan antarpribadi.

 

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Novel Breakfast at Tiffany's

Analisis Novel Emma

Analisis Novel The Old Man and The Sea